Rabu, 23 September 2009

Mengapa Harus Mundur?


Mengapa Harus Mundur?
* Bambang Susanto,BA
Ke depan agar para seniman lumajang memiliki wadah dan sekali gus sebagai thinktank yang disegani dan diakui eksistensinya, para seniman sendiri lah yang seyogyanya berinisiatip mengambil langkah tepat dan jitu.

Kemelut dan carut-marut permasyalahan Dewan Kesenian Lumajang (DKL) agaknya semakin
Ka. KAPORA
Kabupaten Lumajang Abdurrahman, MSI
kentara dan tak terhindarkan lagi. Setelah mundurnya Teguh Ekaja ( pegiat sastra dan EO, merangkap Jurnalis dan broadcaster) menyusul Iskandar Syah ( pelukis); keduanya mundur dengan cara terhormat, dan bahkan ada yang memberi acungan jempol. Mundurnya melalui surat yang ditujukan kepada Ketua DKL maupun kepada TP2DKL ( Tim Persiapan Pembentukan DKL) kemungkinan ada indikasi dilematis; tarik menarik antara beberapa kepentingan, ketidakkekompakan internal seniman sendiri yang bermuara:beberapa orang dari kelompok seniman tertentu yang memiliki soliditas dan ikatan
batin tertentu, memepengaruhi dengan seseorang yang berhak mengambil kebijakan untuk diputuskan. Ini masih dalam pernak-pernik, lebih dari satu kemungkinan dari penerawangan seseorang yang patut diperhitungkan intuisinya, ucapan dan peri lakunya di dunia yang digelutinya. Seni. Yang lebih mengagetkan, mencengangkan pun mengundang tanda tanya besar para: seniman, pengrajin, pelaku seni, pemerhati seni dan pengamat seni dan sejumlah tokoh masyarakat; mana kala para personal itu mendapat kehormatan untuk hadir pada Musyawarah Dewan Kesenian Lumajang ( Jumat, 23 Januari 2009). Sebanyak seratus orang lebih manusia-manusia yang ada sangkut-paut dengan dunia seni itu diberi hak sepenuh hati-penuh ikhlas-tanpa dipaksa dalam bentuk apa pun.
Ah...sayang, sayang seribu sayang.... Hasil voting tertutup dengan menuliskan angka pada selember kartu yang telah disediakan panitia: Nomor urut 1 untuk memilih Drs Abdurrahman, Msi; nomor 2 untuk Reza Aribowo; 3 untuk Eric Sucahyo; 4 untuk Bambang Susanto dan Nomor urut 5 bagi yang berminat memilih A’ak Abdullah Kudus ( tidak hadir dengan alasan yang tidak jelas). Dan berdasarkan hasil voting itu, Maman ( panggilan akrab Drs. Abdurrahman , Msi) memperoleh suara lebih dari 80 %. Maka setelah itu, sebelum meninggalkan Warung Apung, semua yang hadir memberi ucapan selamat, dengan menjabat tangan sang Pemenang.
Hasil pemilihan suara ketua DKL masa kerja 2009-2012 dengan sistem semacam itu siapa pun tidak akan terperangah (yang hadir), bahwa itu syah dan tak menimbulkan gejolak sedikitpun bagi yang hadir di situ-semua pasrah, patuh dan menghormati semua hasil yang ditelorkan; pun pada saat diumumkannya pembentukan kepengurusan-setelah melalui sidang maraton yang sedikit mencekam di ruang yang telah disiapkan sebelumnya-semua yang hadir, tidak satu pun menunjukkan gelagat ketidakpercayaan yang minor-minor, apa lagi protes. Semua peserta nampak legowo terhadap hasil keputusan.
Baru selang beberapa hari, setelah usainya perhelatan akbar itu, beberapa seniman kaget, terhenyak dari dunia yang digumulinya. Siapa yang tidak terkejut mana kala seorang pelukis, sastrawan, dramawan, penari, pengrajin, pemain ludruk, kentrung, glipang, reog, jaran kepang, jaran slining, jaran sirut, komedi bedes bahkan seorang pengamen jalanan yang penuh tato; sedang enak-enaknya berkarya kemudian terdengar berita “ Maman munduuuur” dari ketua DKL sebelum dilantik. Cicak yang merambat erat di dinding, pun akan terpeleset dan terpelanting jatuh , menimpa tepat kepala pelukis yang sedang asyik melukis. “Apa, Maman mundur? Mengikuti jejak Teguh Ekaja dan Iskandar Syah. Apa-apaan ini, dan ulah siapa lagi ini? Kampreet!”
Menurut sekretaris DKL bayangan (aku, Mukidi), mundurnya Maman justru karena alasan “Kesibukan” di tempat dia mengabdi ( Ka.Kapora). Sangat masuk akal dan beralasan! Tapi kok tidak dulu-dulunya dikeluhkesahkan, sejak terbentuknya sebagai anggota tim formatur Itu? Namun itu adalah keputusan seseorang-sangat bersifat privasi dan harus dijunjung tinggi yang semoga saja tidak ada unsur-unsur tertentu dari pihak external yang memposisikan dia agar mundur, melepas-pasrah begitu saja sebagai ketua de-ka-el; apa lagi dalam menggelar acara itu menghabiskan dana yang tidak sedikit; di suatu tempat yang representatip bagi para seniman berkumpul-hendak menggelar acara akbar.
Tapi semua orang tahu, kok. Di tempat perhelatan itu: mata-mata liar melirik tajam ke sana ke mari, mulut-mulut berhaha-hihi, kusak-kusuk, diskusi kecil penuh arti, introspeksi diri, mengintrospeksi orang lain, dan uh... entah apa lagi yang dipergunjingkan di malam kelam terguyur hujan deras itu. Semua luluh dalam suasana “ Musyawarah Dewan Kesenian Lumajang Tahun 2009” yang baru kali pertama digelar. Dan hasilnya? Mentah, terpental dan ambyar berkeping-keping sebelum menggelinding-menggerus dan meluluhlantakkan para seniman gadungan yang masih saja genthayangan.
Tak perlu heran, ya ada, memang... beberapa seniman yang merasa di sakiti, dipecundangi, dipasung kreativitasnya oleh sebuah sistem. Itu pada periode yang telah berlalu. Dan kalau mungkin masih terasa gaungnya-berlangsung hingga kini, harus ditelusuri apa penyebabnya, siapa biang keroknya, siapa arsiteknya dan siapa pula SENGKUNI-nya. Pun mengapa pula ketua de-ka-el terpilih, tiba-tiba saja undur dari posisinya dengan cara yang sangat terhormat?
Tak perlulah gamang, andai menyibak tabir ketidaksempurnaan seseorang, demi terbentuknya sebuah institusi kesenian yang perlu diperhitungkan kehadirannya dan dapat membanggakan kita semua, baik bagi para: insan seni, pengagum seni (masyarakat), stakeholder hingga ketingkat grassroat. Pastilah merupakan kebanggan tersendiri yang tak ternilai, walau tidak harus terlalu “menohok kesalahan seseorang” secara berlebihan. Ini sangat esensial dan urgen untuk dicermati.
Sebab, Dinas Pariwisata yang telah dilikuidasi selama lima tahun, kini akan dihidupkan lagi oleh pejabat bupati yang baru Dr. Syahrajad Masdar, MA ( Suara Lumajang Fm, Lini Sepuluh, 11 Februari 2009). Keberadaan DKL yang syarat dangan berbagai kesenian yang unik-unik itu pastilah akan merupakan magnit bagi para wisatawan, baik manca negara maupun domestik. Tentu.
Ke depan-agar para seniman Lumajang memiliki wadah dan sekali gus sebagai thing tank yang disegani dan diakui ekistensinya; para seniman sendiri lah yang seyogyanya berinisiatip mengambil langkah tepat dan jitu. Bukankah pada pemilihan ketua DKL kemarin itu ada yang menduduki posisi runner up? Dialah yang semestinya berhak menduduki singgasana Ketua DKL periode 2009-2012. Bila tidak, peluang itu akan disrobot oleh orang yang diragukan eksistensinya sebagai seorang seniman sejati sekali gus mampu me-menage berbagai permasyalahan yang muncul dan substansial.
Sebab sejarah membuktikan, seorang Bambang yang diperkuat sutradara brilian Reza Aribowo, pernah membawa misi teater atas nama “daerah Lumajang” untuk berlaga di tingkat provinsi; dan berhasil membawa nama baik daerah dengan menyabet penyaji terbaik ( Malang, 2005 ) tak satu sen pun mendapat dana; baik dari DKL maupun dari Dinas Pendidikan. Pada hal, dulu, ketika pengelolaan keuangan DKL masih ditipkan di Dinas Pendidikan, Kasi kebudayaan pernah berjanji “sepenuh hati” akan membiayai sabagian dalam mengikuti festival Visualisasi Drama Fragmen di Taman Krida Budaya-Malang itu. Dan, eh...hingga kini tak kunjung didapat apa yang diharap dan digadang-gadang.... Maka jangan katakan tidak wahai para seniman. Ini sebuah tantangan dan peluang yang harus segera diwujudkan. Tolong kami, para seniman cak Ajad.
( Nama panggilan akrab bagi bupati lumajang)
Kamis-malam, 30 April 2009, di pendopo kabupaten lumajang ada momen yang tak boleh dilewatkan. Pengukuhan pengurus DKL periode 2009-2011 benar-benar diwujudkan. Ini bukti Bahwa gelagat dan hiruk-pikuk para seniman telah ditangkap oleh para stakeholder, utamanya Bupati Lumajang. Maka, mari kita isi dan perkaya khasanah seni di kota pisang agung tercinta ini.
Lumajang, 1Mei 2009
Anggota DKL, IKAISI Yogyakarta, Anggota PGPL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar