Rabu, 23 September 2009

Yang Menarik Tasyakuran dan Pleno DKL

Yang Menarik Tasyakuran dan Pleno DKL
*Bambang Susanto, BA


Hati-hati bung! Meleset sedikit saja atau lalai, kita akan terpeleset dan terjungkal; bisa saja kita semua akan diinapkan dalam “hotel prodeo”, mana kala pengelolaan yang bersangkut-paut dengan masalah pertanggungjawaban keuangan yang tidak prosedural. Mudah-mudahan tidak, jaga nama baik de-ka-el!

Undangan telah disebar; yang tak terjangkau via telpon atau sandek. Itu pasti, manakala entitas Dewan Kesenian Lumajang, yang baru saja dilantik (Keputusan Bupati Lumajang ; No. 188.45/113/427 . 12/2009; 20 April 2009) di bawah pimpinan Eric Sucahyo mengundang seluruh anggotanya. Ini patut diacungi jempol-karena yang sudah-sudah undangan hanya cukup melalui kontak person bahkan SMS saja. Walaupun tidak seluruhnya.
Masih belum begitu lama (Minggu pagi, 21-6-2009), di stadion Semeru Lumajang-ruang ganti, telah terhampar karpet merah dan tikar lipat. Nampak, Mbak Nunung (tenaga administrasi baru DKL) dibantu dua-tiga orang sibuk menyiapkan berbagai minuman dan makanan-termasuk tumpeng. Dan orang-orang mulai menyeruak masuk, kemudian duduk-ngobrol, ngalor-ngidul. Di sana-sini asap rokok mengepul, keluar dari para mulud beberapa seniman perokok.
Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 10.00 (WIB), namun yang diundang belum juga datang seluruhnya. Undangan dengan nomor surat B.009/VI/2009/DKL tertera pukul 09.00-selesai. Hanya dua puluh satu yang menunjukkan batang hidungnya; itupun termasuk satu dari tiga anggota dewan mentor: Ibu Tuti Su darsono yang sudah renta dicaplok usia. Para penasehat yang lain tidak hadir: Parmin Ras ( sedang tour ke Amerika selama tiga bulan dalam rangka promosi kesenian), Wahyudi (tidak berkenan hadir dengan alasan yang tidak jelas).
Tolah-toleh, karena yang hadir hanya sejumlah itu dari lima puluh tujuh anggota yang diundang, apa lagi detik-detik jam semakin merambat naik menuju hampir pukul sebelas; acara pun didedah. Semua yang hadir duduk bersila kecuali ibu-ibu, bersimpuh-sambil mendengarkan sambutan dari sang ketua umum. Menurutnya ada dua acara yang harus dirampungkan pada hari itu. Pertama tasyakuran dan yang kedua rapat paripurna anggota.
Untuk sesi tasyakuran (sebagai orang Jawa, tentunya) memang penting dan harus di uri-uri, semisal, upacara: pindah rumah, membuat rumah, sedekah bumi, panen padi, pethik laut, dan lain-lain selalu diperingati dengan acara yang sakral-nyeni-unik-unik; tak terkecuali pada acara penempati kantor sekretariat baru de-ka-el (walaupun masih satu atap dengan gedung stadion Semeru-tempat kantor Pemuda dan Olah raga) di jalan Gajah Mada 2 Lumajang. Syukur Alhamdullillah, pihak PEMKAB dapat memfasilitasi tempat dan sarana untuk memproses kinerja pengurus dan anggota DKL. Terima kasih. Dan mudah-mudahan tidak ada pihak-pihak lain yang menggugat keberadaannya.
Pengurus dan anggota DKL harus berbangga hati, karena baru kali ini memiliki kantor sekretariat, sehingga semua th`eth`ek beng`ek yang berkaitan dengan seni dan seniman dapat terimplementasikan sebagaimana yang diharap. Pun, kini sudah memiliki perangkat lunak, berupa: LCD, computer plus printer, camera digital, dan lain-lain. Ini sangat menunjang dan harus kita manfaatkan semaksimal dan seoptimal mungkin. Di samping itu sudah tersedia tenaga administrasi khusus yang menangani organisasi kita ini; tidak seperti yang dulu-dulu, segalanya didaulat oleh jajaran pejabat Pemkab.
Nah, tinggal kita, para seniman... mampukah kita memanfaatkan semua fasilitas itu semua? Sejauh dan sedalam mana pula resistensi kita dalam mendongkrak - memperkuat posisi salah satu institusi seni yang legitimate dan telah: diketahui, disoroti, dimata-matai, baik bottom up maupun top down. Maksudnya, kalau diundang mbok ya datang. Kalau berkenan tidak dapat hadir, minimal memberitahu apakah lewat telepon dan lebih etis lagi andai melalui surat dengan alasan yang rasional.
Pada umumnya mindset anggota masih klasik. Sibuk dengan berbagai alasan. “Diundang tidak mau datang, tidak diundang ngambeg kemudian ngrow`eng.” Ramai di belakang dan runyam. Agaknya itu tak berlebihan bila dikatakan bagai perilaku anak balita, yang sebenarnya harus sudah kita lalui dan dibuang jauh-jauh sebagai barang rongsokan yang tercampak di tong sampah.
Yang paling menarik dalam acara thanksgiving kali pertama ini-untuk menempati kantor baru; ketika detik-detik pemotongan tumpeng itu. Sang Ketua umum, tiba-tiba saja didekati dan dibisiki oleh mentor yang sudah pantas sebagai “pakar Budaya Jawa di Lumajang” ; hadirin larut dan luluh dalam suasana: iba,tersipu, tercengang, dan bangga memperhatikan ibu sesepuh itu menuntun doa.
Begini lho nak, doanya” Bismillah Hirrohman Hirrohim, niat ingsun motong tumpeng, ora motong-motong tumpeng motong sebel sengkolo kabeh, karyo mulyo raharjo, slamet-slamet-slamet, slamet saka karsane Allah. Amemayu hayuning bawono langgeng. Suro diro joyo ningrat lebur dening pangastuti // Dengan nama Allah yang maha pengasih., saya berniat motong tumpeng, tidak motong-motong tumpeng, motong semua yang sengkarut dalam hati dan pikiran., pekerjaan mulia pasti selamat, Selamat-selamat-selamat, selamat karena kehendak Allah. Menghargai pemberian dunia yang kekal. Genderang sorak kejayaan akan lebur oleh suatu kedamaian dan ketenteraman //.
Dan tiba-tiba saja mak nyus... enhong di tangan Eric Sucahyo telah memotong ujung tumpeng dan langsung diserahkan pada sesepuh kita itu. Kilatan kamera inventaris DKL yang baru dibeli pun dibidikkan pada kedua insan itu berkali-kali. Semua yang hadir terpana menyaksikan adegan dramatis itu. “ Wah, terkesan Jawa sekali, betul-betul terasa Jawa” Celetuk Gatot Hariyoto (mitra bidang sastra) yang duduk di samping kanan saya. Seluruh yang hadir serentak menyerbu hidangan yang telah lama aromanya menggoda air liur dan lidah; tertata apik di depan mata masing-masing. Kecuali yang tidak berkenan hadir. Ngaplooo, ha-ha-ha-ha ....
Pada sesi kedua; yang pemaparannya sudah menggunakan LCD (inventaris) yang masih gres, cukup hangat dengan adanya banyak kontribusi dari para anggota, yang saling berinteraksi positip terhadap pengurus. Mudah-mudahan saja senarai semua program yang telah disetujui dapat di: lihat, nikmati, hargai dan dievaluasi bersama dan bermanfaat untuk kemajuan seni di kabupaten Lumajang, dan bukannya bernuansa gimmick. Ketidaksamaan pendapat dari para anggota di institusi manapun pasti ada; lebih-lebih di tubuh DKL. Kalau beda pendapat, kalau ada penyelewengan , apakah berasal dari para anggota , pun pengurus; sekecil apapun, mari kita pecahkan bersama. Hati-hati bung! Meleset sedikit saja atau lalai, kita akan terpeleset dan terjungkal; bisa saja kita bersama-sama akan diinapkan dalam “hotel prodeo”, mana kala pengelolaan yang bersangkut-paut dengan masalah pertanggungjawaban keuangan yang tidak prosedural. Mudah-mudahan tidak, jaga nama baik de-ka-el! (**) Lumajang, 30 Juni 2009

• Anggota Paguyuban Guru Penulis Lumajang (PGPL)
• Anggota Dewan Kesenian Lumajang

Jumpa Dengan Parmin-Ras setelah dari Amerika dan Jepang.

Jumpa Dengan Parmin-Ras setelah dari Amerika dan Jepang.
Firstya Diyah E

SIAPA yang kenal dengan Parmin Ras? Kenal, tidak kenal? Oh ya, saya kenal… sebagian juga berkomentar, hem… itu sahabat saya, aku kenal betul dengan dia; wah, itu seniman terkenal, itu dari Condro-seniman yang sudah sangat kondaang. Tapi sebagian ada juga yang berkomentar “ Apa, Parmin Ras? Siapa ya dia, dan di mana pula tempat tinggalnya, apa pula prestasinya, saya tidak tahu, tuh…!
Nah, dari pada kita berasumsi yang ngalor-ngidul, tidak menentu, yuk ikuti wawancara saya dengan salah satu orang yang tidak harus disepelekan begitu saja. Pestasinya, khususnya dalam bidang seni yang unik-unik, seyogyanya perlu ditelusuri, dan disimak agar dapat menjadikan bahan renungan kita bersama. Sehingga kita dapat mengapresiasi, apa dan bagaimana sih, dia dalam sepak terjangnya dalam bidang yang selama ini ia geluti.
Tentunya, untuk memperoleh informasi perihal itu, harus meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran. Tak apalah, apa lagi ini tugas dari PRESTASI, sebuah media informasi sekolah yang harus kita miliki dan kita baca bersama. Ingin segera tahu, kan? Berikut hasil wawancara saya dengan Parmin Ras seniman kondang dari Condro- Pasirian (Lumajang)-Indonesia.
Oh-ya, saya dengar, anda melawat ke amerika. Dalam rangka apa sih?
Saya ke sana dalam rangka mendapat Grand award U/ Veret and Observasi seni pertunjukan di New York Amerika
Dengan siapa anda ke negeri Paman Sam?
Saya ke sana sendirian saja, tanpa teman, seorangpun.
Mengapa harus ke Amrik?
Yah, mmmm…dalam rangka Grand itu, tentunya. Karena penyelenggara Grand-nya dari Amerika.
Kapan berangkat ke sana dan kapan pula pulangnya?
Saya berangkat pada 2 Mret 2009 dan pulangnya agak molor sedikit; mestinya ti ba di Indonesia 28 Mei, maka mundur sampai 11 Juni 2009. Karena harus singgah di negeri Sakura; ya, dalam rangka misi kesenian yang saya perkenalkan ke seluruh dunia.
Kota mana saja yang anda kunjungi?
Hanya satu , New York! Itu satu-satunya yang harus saya kunjungi.
Bertemu dengan siapa saja di sana?
Saya bertemu dan disambut oleh direktur kesenian New York
Dan beberapa seniman yang menaruh respect terhadap misi kesenian yang saya bawa.
Bagaimana aktifitas sehari-harinya selama anda di Amerika?
Ha-ha, ha-ha, ha-ha…sangat menyenangkan sekali,saya di sana lebih banyak enjoy, maklum Negara yang saya kunjungi adalah Negara sekulair, sehingga siapa saja boleh berpendapat semau gue.Yng penting tidak melanggar undang-undang. Jadi happy banget tinggal di sana. Di sana saya lebih banyak nonton pertunjukan seni; dari tontonan yang paling murah hingga yang paling mahal, yaitu di teater Broadway yang sangat terkesan megah dan mewah. Tak ada lah, bandingnya kalau di Indonesia.
Yang harus diketahui, buat semua pembaca PRESTASI, bahwa saya di sana mementaskan Teater yang saya bawa jauh-jauh dari Lumajang-Indonesia, adalah “JUST A LITTLE THINGS” dan ternyata banyak mendapat respon positif yang luar biasa dari para pengagum seni di New York.
Oh ya, hampir saja saya lupa. Setelah dari New York, saya ke Washington DC, untuk mengadakan riset dan pementasan. Dan yang menarik lagi saya diberi kehomatan untuk on-air di RadioSuara Amerika (VOA). Dan setelah itu ke Jepang di kota: Tokyo 5 hari, Kyoto 2 hari dan Osaka 1 hari.
Nah pembaca PRESTASI setia, masih belum puas, atau ingin memeperoleh lebih banyak informasi tentang dia?Bolehlah main-main ke sana, dia juga punya sanggar teater juga lho. Yuk ke sana yuk….(bs)

Sejenak di SMP Negeri 213 Jakarta Timur

Sejenak di SMP Negeri 213 Jakarta Timur

PADA kesempatan itu (Rabu Kliwon, 8-7-2009) tepat dengan pelaksanaan pencontrengan Pilpres, saya terdampar di ibukota-Jakarta. Ke sana memang ada maksudnya. Selain mengisi liburan akhir semester dengan bersilaturahmi dengan sanak famili;ada satu hal penting yang tak boleh dikesampingkan begitu saja.
Adalah menyelamatkan harta karun yang tak ternilai, berupa buku-buku bermutu, sementara putra-putrinya sudah tidak berminat merawat dan membacanya lagi. Maklum sudah sarjana semua. Hah...?! Itulah sebagian besar karakter para intelektual muda kita. Kalau sudah lulus sarjana, merasa ilmunya mentok, sehingga tidak mau menambah ilmu dengan membaca.
Untuk itu Penulis mendapat hibah bahan bacaan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, hampir 1 kwintal, yang berupa: buku seni/sastra, politik, ekonomi, lingkungan hidup, khasanah pengetahuan anak-anak, dictionary, ensiklopedi, ottobiografi, dan lain-lainnya..Untuk itu ke Jakarta di akhir tahun pelajaran 2009 ini tak boleh disia-siakan begitu saja.
Sungguh-sungguh melelahkan bepergian ke Jakarta dengan naik bus. Dari terminal Minak Koncar Pkl.14.00 (WIB), tiba di Jakarta kurang lebih pukul 11.00 (WIB). Betul-betul sangat menyiksa pisik dan psykhis-walaupun toh, sampai juga di tempat tujuan. Cipinang Indah. Nah, di situ tempat bersemayamnya buku-buku bermutu tinggi yang dihibahkan.
Setelah basa-basi dengan sanak famili dan menikmati rehat yang meyenangkan, langsung menuju lantai dua tempat rak-rak-tempat bersemayamnya buku-buku itu. Dan alamak...buku-buku itu memang masih duduk, tergolek, bersandar , dan berdiri tegak di tempatnya, tapi debunya melekat padat setiap inchi di keberadaannya.
Dengan masker yang telah saya persiapkan dari Lumajang: kuambil, kugapai dan kuangkat satu demi satu buku-buku itu untuk diturunkan; dan tentunya dibantu dengan mantan pacar dan seorang pembantu-langsung dijemur di terik matahari-agar kuman-kuman mati. Dan ternyata setelah diturunkan dan ditimbang mencapai hampir 1 kwintal. Setelah dekemas, uh... pihak kantor Pos tidak mau menerima; sesuai aturan maximal 30 Kg. Terpaksa deh, dibongkar lagi menjadi empat box kemasan. Yang tentunya keringat bercucuran dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Apa lagi saat itu kantor pos sangat padat dengan antrean para pensiunan untuk mengambil gajih.
Dengan via Pos akhirnya buku-buku itu bisa tertawa terbahak-bahak sampai di Lumajang, karena paket yang sampai di rumah tak sedikitpun cacat. Terima kasih Pak Pos. Nah, misi pertama telah terlaksana “ menyelamatkan buku-buku yang sekian tahun tidak digubris tuannya-menangis pilu berjamaah. Perasaan pun sedikit lega.
Ingin nyotreng di Jakarta.
Malam-malam di Jakarta terasa sangat beda dibanding dengan menikmati malam di Lumajang. Selain perbedaan temperatur udara yang mencolok, pun nyamuk-nyamuk Jakarta ternyata lebih genit. Bayangkan, untuk menepuk seekor saja terasa sangat susah. Terpaksa deh, tidur dengan obat anti nyamuk oles dan kipas angin menyala semalam suntuk. Itu syaratnya bila ingin tidur pulas di Jakarta.
Di ujung malam kedua (8 Juli 2009); ketika terdengar suara adzan bersaut-sautan antara masjid satu dengan lainnya; bergegas untuk menikmati indahnya kota Jakarta. Dan... eh, tak terasa toko-toko, kios-kios, para penjaja asong menggeliat begitu gigihnya menyambut hadirnya sang surya yang tak bosan-bosannya terbit dari ufuk timur dan bersemayam di ufuk barat. Dan setelah sarapan pagi, kami bergegas ke tempat penyontrengan yang jaraknya tak begitu jauh, cukup jalan kaki. Tidak lebih dari limabelas menit. Kami pun tiba.
Setelah tanya pada petugas, ya ampun... ternyata KTP Lumajang tidak laku untuk nyontreng di Jakarta. Terpaksa lah, pulang-tidak nyontreng. “ Ini tidak adil, ini tidak adil, bukankah ini masa liburan, banyak orang-orang bepergian ke luar kota. Sehingga berapa juta rakyat yang tidak mempunyai hak pilih karena bepergian ke luar kota?” Gumamku sambil meninggalkan tempat itu, dengan rasa kecewa.
Seorang anggota POLRI yang masih muda tiba-tiba saja menghampiriku bahkan mendampingiku. “ Sabar, sabar pak... titipkan saja suara Bapak dan Ibu di kampung Bapak” selorohnya sambil tersenyum.Maka, untuk menepis rasa kekecewaan kami, terpaksa jalan-jalan.
Dan setelah bertanya sana-sani di mana letak pasar terdekat. Hem... cukup dengan numpang microlet no 52 sampailah di pasar PERUMNAS-Klender. Wah, ternyata pasarnya tak sesuai dengan namanya, cukup megah. Tingkat Dua, ramai pula...walaupun pada saat-saat penyontrengan berlangsung.
Ingat satu-satunya kacamata hilang entah di mana; setelah menelusuri lapak-lapak berputar-putar yang tertata apik, eit...tak diduga ada seorang cewek smart berdiri di belakang dagangannya, “Kaca Mata.” Wah, ini yang aku cari sejak tadi. Tanpa banyak basa-basi, begitu cocok ukuran dan harganya, kaca mata pun sudah berpindah tanagan.
Sejenak Mampir di SMP 213 Jakarta Timur
Keluar dari los-los pasar yang mengesankan itu, melewati kios kue, kami pun membeli beberapa jenis jajanan khas Jakarta; dan oh itu kios buah-buahan yang paling aku suka. Beberapa jenis pisang nampak tergantung dan teronggok begitu saja, tapi tak satu pun jenis pisang yang menarik untuk kubeli. Ya...hanya sebuah pepaya Thailand yang sempat kubeli. Sekedar tahu saja, pepaya di Jakarta, belinya harus ditimbang. Satu kilo seharga Rp 3000,- Sebutir yang berhasil aku pilih beratnya mencapai 4 Kg. Terpaksa deh, sekedar untuk oleh-oleh, tak apalah....
Dalam perjalanan pulang menuju Duren Sawit (familiku yang kedua); dari pada menungggu mickrolet di tepi jalan, ah... lebih baik jalan kaki, itung-itung sambil olah raga jantung sehat. Kira-kira limaratus meter, jarak kami melangkah, lho itu kan gedung sekolah, sekilas terbaca olehku papan nama mungil “ SMP Negeri 213 Jakarta Timur.” Lima-enam langkah sekolah itu kami lalui, dan eh... entah kena apa, terasa ada daya magnit tersendiri untuk singgah di sekolah itu. Tanpa ragu kami masuki pintu gerbang yang tak terkunci.
Dan ...o-oi,o-oi itu ada kran PDAM. Kuputar, ternyata airnya mancur deras. Cuci muka ah.... Setelah terasa cukup segar, karena tanganku juga ikutan dibasahi; tiba-tiaba dari arah pojok depan muncul seorang Ibu setengah tua menghampiri. Kami menyapanya dengan senyum. “ Maaf Bu, saya mampir sejenak, habis jalan kaki dari pasar PERUMNAS.” “ Oh, tidak apa ... Bapak dan Ibu wali murid atau akan mendaftarkan puteranya di sini ? Desak halus Ibu itu sambil menatap kami. “ Hem...bukan, bukan, kami hanya singgah, saya juga guru, ini ibunya anak-anak juga guru. “ o...”
Tak lama , tiba-tiba perkenalan kami jadi akrab begitu saja. “ Nah, ini kesempatan bagiku untuk mengorek keberadaan sekolah ini. Lebih baikkah atau sebaliknya dibanding dengan sekolah tempat aku bekerja, SMP Negeri Sukodono? Kami pun ditawari air minum mineral dan sebagai imbalannya beberapa kue yang baru kami beli, kami sodorkan. Suasana semakin hangat.
Banyak hal yang berhasil saya peroleh, sekitar pelaksanaan: tata-tertib, EKSKUL, ruang-ruang, jumlah tenaga kependidikan, dan lain-lain. Dan yang perlu di ketahui, untuk mengorek sesuatu hal janganlah percaya pada satu sumber saja. Tak puas wawancara dengan si Ibu itu, langsung croschek pada suaminya yang kebetulan tiba saat wawancara dengan istrinya selesai.
Kami pun sempat mengambil foto-foto. Berikut hasil wawancara dengan orang-orang Jakarta yang masih berkutat di dunia pendidikan.
Berdirinya SMP Negeri 213 Jakarta Timur sejak 1982; sama dengan sekolah kita: sejak 2 Oktober 1982. Jumlah ruang belajar sebanyak 24 kelas yang diisi 40 siswa setiap kelasnya (wah, kelas reguler semua); sekolah kita 21 kelas, yang terdiri: Kelas RSBI 4 untuk tingkat I, dua RSBI untuk tingkat II, dan satu RSBI untuk tingkat terakhir, sisanya kelas reguler. Tapi ada kelebihannya juga sekolah yang baru saya kunjungi itu. Ruang guru, ruang Tata usaha, ruang Kepala sekolah, ruang perpustakaan, ruang komputer, semuanya ber- AC. Slogan dan nama ruang juga sudah menggunakan bahasa Inggris.
Jumlah SATPAM: dua orang-untuk siang hari, dan satu orang malam hari. Jumlah tenaga kependidikan sebanyak 80 orang. Sekolah tersebut adalah sekolah terbesar dari sekolah-sekolah SMP se wilayah Jakarta Timur.
Jenis EKSKUL yang ada di sekolah yang terletak di Jln. Malaka I itu, berupa: volly, bulu tangkis,Tae Kwon do, Band, Teater, dan tari Sunda. Input tertinggi untuk peserta didik baru (2009-2010), tertinggi: 288,00 dan terendah 227,50, yang meliputi mata pelajaran: IPA, BIN,dan Matematika.
Masyalah kedisiplinan, sesuai informasi yang berhasil saya korek dari salah satu tenaga kependidikan, “ Bagi semua siswa yang datang terlambat, tak peduli laki-laki atau perempuan; harus jalan berjongkok dari pintu gerbang menuju kelasnya masing masing. Onde mande.... Bagaimana kalau diterapkan di sekolah kita, setuju? Jangan dulu donk... ntar nanti para wali murid banyak yang protes.
Begitu hasil wawancara Bung Press yang jauh-jauh datang ke Jakarta “mencipta sebuah perjumpaan tak sengaja” dengan Pak Warsidi ( asli dari Sleman-Yogyakarta) dan Bu Menik ( asli dari kota Brem-Madiun); yang walaupun hanya seorang Pesuruh gajihnya sudah mencapai hampir 4 jutaan. Huh.... maklum tinggal di Jakarta.(bs)

Masuk RSBI, Mengapa Harus takut?

Masuk RSBI, Mengapa Harus takut?
*Bambang Susanto,BA

Hingga kini penulis masih berasumsi, sangatlah tak terhitung para siswa yang berotak encer, masih tercecer di kelas-kelas reguler-enggan masuk ke kelas RSBI dan Rozanah sebagai puncak gunung ES-nya.

KIRANYA, kita masih segar dalam ingatan, bahwa ada seorang siswi tingkat SMP peraih NUN (Nilai Ujian Nasional) tertinggi se-Jawa Timur. Masih, kan? Dia adalah Rozana Cahya Kurniawati dari SMP Negeri 1 Babat. Nilainya sangat sempurna. Matematika 10, Bahasa Inggris 10. Bahasa Indonesia 10 dan IPA 10; total jumlah nilainya 40. Prestasi yang luar biasa itu ditunjang dan teruji lagi dalam kemampuannya membuat karya tulis ilmiah remaja; berhasil (bersama dengan kelompoknya) meraih juara I tingkat nasional. Sayang seribu sayang, dia tak berminat mendaftarkan diri sebagai siswa di sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (Jawa Pos, Minggu 21 Juni 2009). Ada apa gerangan?
Sementara itu, sebanyak 20 Kepala Sekolah RSBI se-Jatim mulai 1 Agustus 2009 berangkat ke Beijing memenuhi undangan Yunan Federation of Returned Overseas Chinese; yang bertujuan menjalin kerja sama peningkatan kualitas pendidikan ( Jawa Pos, Minggu 2 Agustus 2009). Keberangkatan mereka jelas merupakan indikator bahwa sekolah-sekolah yang telah berani menyandang predikat RSBI tidak spekulatif. Dalam artian , apapun resikonya, RSBI adalah tujuan yang pasti yang tak boleh ditawar-tawar lagi, apa lagi tarik ulur antara berbagai pihak yang terkait, apakah dengan: pusat, provinsi maupun tingkat daerah-harus saling bersinergi sehingga sekolah-sekolah yang dipimpin oleh kepala sekolah itu, nanti menjadi SBI ( bukan RSBI lagi).
Keberadaan RSBI sebenarnya didukung oleh banyak regulasi, yaitu: Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional ayat 2 dan ayat 3, PERMEN No.19 Tahun 2005, PERMEN No 19 Tahun 2005, pasal 61, ayat 1, Undang-undang no 17 Tahun 2007 tentang rencana pembangunan jangka panjang Nasional Tahun 2005-2025, PERMEN No 38 Tahun 2007, PERMEN No 48 Tahun 2008, Rencana Strategi Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009, Kebijakan Depdiknas 2007, halaman 10, dan PERMENDIKNAS no 22,23, 24, Tahun 2006 dan No 6,12, 13, 16, 18, 19, 20, 24, dan 41 Tahun 2007. Isi Subtansinya dapat dipelajari dalam buku Panduan Pelaksanaan SMP Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (merupakan embrio dari SBI). Dan SBI sendiri sebenarnya adalah Sekolah Standar Nasional (SSN) yang memiliki standar tertentu yang bertaraf Internasional. Kalau boleh dirumuskan, SBI=SSN+X. Sehubungan dengan perumusan tersebut, sekolah harus berupaya mengedepankan aspek Manejemen Berbasis Sekolah (MBS), yakni: demekratis, partisipatif, transparatif, dan akuntabel.
Dari keempat aspek tersebut kalau benar-benar terimplementasikan sesuai prosedur, niscaya akan terwujud penguatan-penguatan Standar Nasional Pendidikan. Dan harus ditindaklanjuti dengan action konkrit berupa rencana Pengembangan Sekolah (RPS) yang meliputi: pengembangan akreditasi sekolah, pengembangan standar isi ( kurikulum), pengembangan standar proses dan penilaian, pengembangan kompetensi lulusan, pengembangan sarana –prasarana, pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan, pengembangan pengelolaan lembaga, pengembangan pengelolaan lembaga, pengembangan pembiayaan pendidikan, pengembangan budaya sekolah, lingkungan sekolah dan model sekolah lain. RPS ini kalau ingin selamat harus mengacu MBS tersebut di atas. Tidak boleh tidak.
Berkaitan dengan MBS dan RPS yang paling dapat dirasakan bagi siswa dan guru dalam melaksanakan PBM (Proses Belajar Mengajar) adalah “Sarana dan tenaga pendidik”, dan ini merupakan pengawal garda paling depan yang harus dipertaruhkan demi suksesnya sebuah sekolah yang berpredikat RSBI. Perlu dimaklumi, untuk sarana kelas RSBI harus tersedia : LCD, PC, laptop ( diharapkan-tidak harus, setiap siswa punya), teve, VCD player, tape recorder, speaker aktif, locker, perpustakaan dan lab. IPA mini, adanya hotspot di area sekolah, dan lain sebagainya yang menunjang faktor X.
Para gurunya pun demikian, di samping menguasai ICT, proses pembelajarannya harus billingual teaching dengan porsi: untuk mengajar kelas VII, bahasa Inggris 30 % bahasa Indonesia 70 %; kelas VIII, bahasa Inggris 50% bahasa Indonesia 50%; dan kelas IX bahasa Inggris 70 % bahasa Indonesia 30%. Kecuali mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Daerah. Ini harus benar-benar terimplementasikan dan harus tegas, kalau ingin program RSBI sukses.
Sekedar diketahui saja, pada umumnya sekolah-sekolah yang mempromosikan diri sebagai sekolah RSBI, masih menyisakan guru-guru senior ( tua-tua, maaf). Ini kendala utama yang harus ditangani dengan serius. Sebab, dan terus terang saja, bagaimanapun juga guru-guru tua kalau diikutkan dan dipaksakan mengikuti diklat dengan materi ICT dan bahasa asing (Inggris), jelas sudah tidak akan mampu lagi. Langkah terbaik adalah rekrutman guru-guru generasi berikutnya dengan usia maksimal 35 tahun.
Kepergian 20 para kepala sekolah ke Tiongkok, yang sebelumnya tahun lalu sebanyak 20 kepala sekolah pernah juga ke Turki (Termasuk kepala SMPN I Sukodono-Lumajang; kepala sekolah penulis), memang mencari bentuk-bentuk model pembelajaran sekolah lain dengan harapan, dapat diterapkan, mana-mana yang sesuai untuk diaplikasikan di sekolah-sekolah tempat habitat para kepala sekolah itu.
Sekarang permasyalahannya adalah, mengapa seorang Rozanah Cahya Kurniawati dengan perolehan NUN tertinggi, enggan masuk RSBI? Apakah di otaknya telah mereproduksi image-image, “ Eh, jangan-jangan para gurunya tidak dapat melaksanakan tugasnya sebagaimana yang diamanatkan sekolah er-es-be-i.” Atau mungkin ada sebuah kegamangan, jangan-jangan pula, kelas RSBI hanya dihuni oleh anak-anak orang berduit. Kalau ini yang menghantuinya, sangatlah berlebihan, kiranya.
Sekedar tahu saja (maaf) penulis yang sudah 2 tahun berturut-turut menjadi wali kelas RSBI, menyadari dan tahu benar segala permasyalahan yang emerge ( muncul) di kelas yang menjadi tanggung jawabnya; bahwa para siswa RSBI tidak hanya terdiri dari anak-anak golongan menengah ke atas. Sama sekali tidak. Untuk masuk di kelas itu hanya satu bekal “ lulus test.” Itu saja, tanpa memandang apa status sosial calon siswa.
Tidaklah perlu dikhawatirkan, sebab keberadaan para siswa di kelas RSBI, dilindungi undang-undang, sebagaimana yang telah diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 31 dinyatakan bahwa: (1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan; (2) setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya serta (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan Nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia.
Ini penting, bahkan Dr. Kir Harijana ( UGM) dalam acara seminar sehari yang mengupas tuntas sosialisasi pemantaban RSBI (30 Oktober 2008) ; dihadiri oleh seluruh guru SMPN 1 Sukodono, SMP SUT Lumajang dan para pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan di sebuah hotel yang cukup representatif di Lumajang menegaskan “ Sekolah dengan RSBI-nya jangan sampai menolak siswa berprestasi dari golongan anak-anak kurang mampu. Ini jangan sampai terjadi dan saya wanti-wanti betul”
Hingga kini, penulis masih berasumsi, sangatlah tak terhitung para siswa yang berotak encer, masih tercecer di kelas-kelas reguler-enggan masuk ke kelas unggulan itu; dan Rozanah sebagai puncak gunung ES-nya. Sebenarnya kehadiran para peserta didik baru yang berprestasi di kelas RSBI, sangatlah diharapkan dan kiranya merupakan sebuah penghargaan dan penghormatan yang tak terhingga bagi para kepala sekolah yang jauh-jauh studi banding ke berbagai negara. Untuk itu perlu adanya peran serta para: warga masyasrakat yang peduli akan pendidikan, Dinas Pendidikan, komite sekolah, para wakil rakyat (komisi D), komite sekolah dan institusi-institusi yang terkait lainnya. Semoga tak terulang lagi pada tahun pelajaran 2010-2011 nanti. Masuk kelas RSBI, mengapa harus takut? (Ω).

Lumajang, 7 Agustus 2009

* Anggota Paguyuban Guru Penulis Lumajang (PGPL)
(PGPL)
Telp. Rumah (0334)-891886
Rek.BRI. 33-22-1772
Alm.Jln. Semangka I/285 Lumajang 67316


Alamat e-mail yang dituju: ruang putih @ jawapos.co.id